Pasar Tradisional Inle Lake


pasar tradisional inle

Pagi harinya pukul 7.30 kami check out dari hotel princess garden untuk mengelilingi danau inle menggunakan perahu

Perahu di myanmar agak beda dengan di indonesia bila di dindonesia 1 baris bisa untuk 2/3 orang karena memanjang di myanmar perahunya hanya bisa 1 orang namun ukuranyya lebih panjang di kapal yang kami naiki bisa untuk 5 orang

Suhu di danau inle meski matahari sudah muncul masih terasa sangat dingin perahu yang kami naiki menyusuri sungai sepanjang perjalanan nampak rumah-rumah panggung yang sdengaja dibangun kareana dibangun diatas rawa,pagoda,sekolah

Tujuan pertama kami pagi itu adalah pasar tradisional inle setelah perahu ditambatkan kami di sekeliling sudah nampak puluhan kapal lain yang juga dinaiki wisatawan

setelah melewati jembatan kayu yang menghubungkan desa kami tiba di pasar tradisional

kami naik kedaratan setelah beberapa lama kami berjalan tibalah kami di pasar tradisional inle pasar ini hampir mirip dengan pasar tradisional yang sebelumnya kami kunjungi lapak-lapak dan gubug kayu tempat pedagang menaruh dagangan mereka ada disini namun jumlah pedagang disini lebih banyak dan selain itu barang dagnagn yang dijual lebih variatif selain buah-buahan,sayuran,bumbu dapur,daging,ikan,alat-alat listrik,kosmetik,dan tentunya souvenir untuk souvenir kami melihat boneka marionet,patung budha,gelang,manik-manik,kalung,lukisan baik itu pemandanagan alam maupun kehidupan sehari-hari masyarakat myanmar.tersedia juga warung dan tempat makan dimana pengunjung dapat mencoba masakan myanmar

menuyaksikan suasana pasar tradisoinal yang ramai dimana pembeli dan penjual saling tawar menawar cukup mengasyikkan apalagi bila tawar menawar antara penjual dengan wisatawan kendala bahasa meski kadang menyulitkan kedua belah pihak sehingga kadang menggunakan kalkulator dan bahasa isyarat.

Disini kita bertemu suku-suku minoritas penampilan mereka mudah ditebak dari ikat kepala merah serta pakaian hitam yang mereka ada juga yang mengenakan selendang berwarna maupun caping

Kami sempat mengambil foto beberapa penjual wanita yang merupakan suku asli warga lokal tidak berkeberatan kita mengambil foto mereka yang penting kita meminta ijin terlebih dahulu kepada mereka

Mayoritas penjual maupun pembeli disini adalah kaum wanita kadang mereka membawa anak-anak mereka dalam gendongan maupun duduk di lapak tempat mereka menjual.saat terbaik menyaksikan pasar ini adalah pagi hari karena warga lokal umumnya berbelanja pada pagi hari bila sudah siang yang tinggal umumnya penjual suvenir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s