Atsumashi kyaung biara yang pernah terbakar


atsumashi kyaung

atsumashi kyaung

Letak bangunan ini berdekatan hanya bersebrangan dan dipisahkan dengan jalan dari shwesandaw kyaung yang merupakan bangunan baiara terbuat dari kayu.sama seperti shwesandaw kyaung atumashi kyaung juga merupakan biara budha.

Menurut sejarah atumashi kyaung dibangun oleh raja mindon dari konbaung dinasti tahun 1857 sekitar 2 tahun setelah beliau memindahkan ibukota kerajaan dari tempat yang lama ke tempat yang baru kota mandalay.awalnya bara ini juga dibangun dari kayu jati sama seperti shwesandaw kyaung namun kebakaran besar ditahun 1890 memusnahkan bangunan biara termasuk barang-barang didalamnya seperti patung budha setinggi 30 kaki yang diberi jubah sutra milik raja dari sutra di dahi patung sang budha saat itu juga ada sebutir berlian berukuran besar yang diletakkan dan empat set lengkap kitab tripittaka dan barang berharga lain yang disimpan di biara ini.

akhirnya pada tahun 1996 badan arkeologi pemerintah Myanmar dapat membangun kembali lagi biara ini namun kini bahan bangunan biara ini bukan lagi kayu jati namun batubata dan hasil restorasi tahun 1996 inilah yang kini wisatawan  nikmati Didepan biara ini terdapat kolam berbentuk bunga teratai dalam ajaran budha bunga teratai sering diasosiasikan sebagai tempat duduk sang budha.melangkah lebih dekat kita bisa melihat bangunan besar bercat putih berdiri dengan kokoh tepat didepan kita.biara ini terdiri dari 6 lantai dimana bentuknya dari bawah ke atas semakin mengecil sed ang dari depan semakin meluas kebelakang sebelum kita masuk terdapat loket penjual tiket bila kita sudah membeli tiket di Shwenandaw Kyaungiara cukup tunjukkan tiket ini kepada petugas loket.

Begitu kita masuk kita langsung menuju lantai 1 untuk masuk dan mengitarinya atau langsung menaiki tangga yang tepat berada di depan gerbang pintu masuk dan langsung menuju ke lantai dua. Lantai satu meski bangunannya  terluas  dan juga memiliki banyak pintu-pintu yang bentuk atapnya melengkung namun saat kita masuk kedalamnya bangunan ini kosong dan tidak ada penjelasan sebagai apakah fungsinya dahulu yang jelas lantai satu berhubungan dengan halaman.

sedangkan lantai dua merupakan ruang utama disinilah dahulu patung sang budha, empat segunt  lengkap kitab tripittaka dan barang berharga lain milik biara ditempatkan disini tempat ini juga dipergunakan sebagai tempat ibadah.saat kita membuka pintu berukir disepuh warna emas dan memasuki ruangan di lantai dua kita akan melihat satu ruangan luas dan besar mirip hall dengan tiang-tiang yang dilapisi warna kuning keemasan dan atap yang terbuat dari kayu jati yang juga diukir simbol-simbol dalam agama budha berupa roda dan tentunya bendera-bendera kecil dari plastik yang diikat dengan tali dan membentang.diatas dekat langit-langit.terdapat 4 pintu masuk dengan warna emas yang ada dikeempat sisi bangunan di lantai dua ini.di bagian ujung ruangan terdapat patung budha terbuat dari logam dalam posisi bersila duduk diatas singgasana yang diukir dan diberi hiasan dengan warna emas.kedua sisi patung budha tersebut terpasang payung putih yang menaunginya.

Follow pecintawisat di @TMIrfan

galeri foto di fotokita.net/lukisanindonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s