Jelajah Kuliner,Sejarah Dan Budaya Banjarmasin hari ke 1


Apa yang terlintas dalam benak kita bila mendengar wisata ke Banjarmasin ?

Banyak dari kita mengenal banjarmasin khususnyadan Kalimanatan umunya  sebagai  derah penghasil batubara

Banyak dari Kita belum menjadikan Kalimantan sebagai tujuan wisata karena kurang diekspos keindahan alam,kekayaan budaya dan sejarah serta kulinernya yang lezat

Setelah seraching info dari web tentang tempat wisata,kuliner Kaimantan selatan dari sehabat kami Mas Nasrudin Ansori yang kebetulan orang kalimantan asli kami segera membuat rencana perjalanan

Hari 1 sabtu 12 Februari 2011

Pagi hari jam 9.00 WITA (waktu Indonesia Bagian Tengah) pesawat yang kami gunakan tiba di bandara Syamsudin Noor di Kalimantan Selatan.lama perjalanan Jakarta-Banjarmasin sekitar terdapat perbedaan waktu sekitar 1 jam dengan Jakarta yang masuk WIB (Waktu Indonesia Bagian barat) disana kami telah ditunggu Bapak santoso driver yang akan membantu perjalanan kami di Kalimnatan selatan

Tempat pertama kami kunjungi musium Lambung Mangkurat yang terletak di Kota Banjarbaru sekitar 25 menit berkendara dari banjarmasin di musium Lambung Mangkurat kami melihat peninggalan sejarah seperti patung lembu Andini ,prasasti batu termasuk  bagian candi Laras dan agung,lukisan rumah dan keseharian Hidup masyarakat Banjar dimasa lalu termasuk peralatan yang mereka pergunakan,cinderamata berupa porselen dan keramik dari negara seperti Jepang,Dinasti Manchuria dan Ming dari China.Di musium ini juga terdapat Geta Kencana yaitu tempat raja Beristirahat,senjata tradisonal Masyarakat Banjar dan dayak yang dipergunakan melawan VOC Belanda seperti Tombak,Mandau,Keris,perisai disamping senjata VOC senapan dan pistol ,Peninggalan kerajaan pagatan,Replika rumah adat Banjar,diorama pertempuran rakyat Banjar dan dayak melawan tentara VOC,lukisan Pahlawan Banjar serta dayak seperti Demang Lehman,Panhgeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah ,daftar pejuang Banjar dan Dayak yang ingin dihabisi VOC beserta hadiah yang dijanjikan VOC bagi mereka yang bisa menangkap/membunuh nya

Kami melanjutkan ke Penambangan intan Cempaka di Martapura ketika kami tiba aktivitas pertambangan baru dimulai.tempat penambangan intan berbentuk seperti lubang besar menganga dimana dasarnya berisi penuh air berwarna kecoklatan bercampur lumpur dimana para pekerja yang berada di dalam kolam nampak kecil. dari kolam terdapat selang air besar yang terus menyemprotkan air dan selang besar yang menghubungkan kolam dibawah ke atas ke menara terbutat dari kayu dimana fungsi menara kayu tersebut memisahkan partikel intan dari batu,pasir dan bagian lainnya dan diteruskan ke kolam disinilah para pekerja memisahkan intan dengan cara mendulang menggunakan alat berbentuk periuk.

Penambangan intan merupakan pekerjaan yang berat dan tidak pasti dalam seharian bekerja seringkali pekerja tidak mendapatkan intan samasekali ini dapat berlangsung berhari-hari walaupun penambang mendapat intan dan nilainya cukup besar harus dibagi ke seluruh pekerja hingga nilai uang yang mereka dapat menjadi kecil.dalam setiap lokasi penambangan intan terdapat kelompok-kelompok  penambang dimana tiap kelompok terdapat lebih dari 10 orang dengan tugas mereka masing-masing.disana kami bertanya kepada para penambang bagaimana bila tidak mendapatkan intan apa yang akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga mereka .ternyata penambang juga menjual pasir dan batu termasuk jenis batu lain seperti akik hanya bedanya harga akik dijual murah karena mudah didapat berbeda dengan intan.

pekerjaan menambang intan dilakukan secara tradisional bahkan karena mereka tidak menjalankan prosedur keamanan beberapa kali terjadi kecelakaan dari penambang disana kami mendapat informasi beberpa bulan lalu dinding penambangan runtuh menimpa pekerja di bawah dan membunuh beberapa pekerja.Ada beberapa hal yang unik yang dipercayai penambang contohnya di hari Jumat mereka tidak akan melakukan kegiatan penambangan dan saat mendengar adzan sholat mereka segera menghentikan pekerjaan mereka,membersihkan diri lalu bersama-sama menjalankan shalat.berbeda dengan penambangan batubara,minyak bumi,emas yang dilakukan pihak Pemerintah maupun swasta dimana sebelum melakukan kegiatan eksplorasi mereka akan meneliti dahulu kandungan tambang tersebut apakah jumlahnya menguntungkan bila dieksplorasi di martapura para penambang intan menggunakan intuisi atau pengalaman sebelumnya para penambang percaya bila diketemukan pasangan intan berbentuk batu hitam maka terdapat intan didaerah itu.bila tidak ditemukan batu hitam mereka akan meninggalkan lokasi penambangan tesebut dan membuka penambangan baru.

Selesai dari penambangan intan Martapura kami menuju kepasar Intan martapura inilah surga berbelanja bagi penggemar Intan disini kita dapat membeli perhiasan dari intan mulai dari berharga jutaan hingga puluhan juta dengan kualitas berbeda.bagi pembeli Intan jangan malu untuk menanyakan kualitas intan yang dibeli dan juga memeriksa keaslian intan tersebut.Di pasar intan Martapura kita juga bisa membeli suvenir cantik dan unik bagi keluarga maupun teman-teman di rumah seperti kalung terbuat dari batu alam berwarna-warni yang indah dan harganya terjangkau dibawah Rp 20.000,00 juga terdapat gelang,cincin,lampit (tikar terbiuat dari rotan).dompet berukir,gantungan kunci,miniatur rumah adat Dayak dengan wadah kaca,jam meja berbentuk pulau Kalimantan,mandau,perisai khas dayak,lukisan dll.kondisi pasar intan Martapura selalu ramai didatangi wisatawan asing,wisatawan lokal maupun penduduk setempat

Tidak jauh dari Pasar Intan martapura terdapat pasar menjual kue-kue tradisional Banjar seperti Kue Talam Barabai,Dodol Kandangan,Saluang (makanan terbuat dari ikan kecil),Lempok durian,amplang dll.

Saat waktu memasuki dhuhur kami shalat di masjid al karomah masjid terbesar dan termegah di Martapura

Tujuan kami selanjutnya adalah rumah adat Banjar yang terletak di teluk Selong lokasi rumah adat banjar terletak tepat di pinggir jalan sehingga mudah dikenali terutama bangunannya yang unik.Rumah ini selesai dibangun tahun 1811 M dan sudah berpindah ke beberapa generasi tapi hingga kini tetap nampak kokoh dan terawat tidaklah mengherankan karena rumah ini menggunakan kayu ulin yang terkenal kuat dan tahan lama Rumah adat banjar Teluk telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah

Provinsi Kalimantan Selatan di rumah ini interiornya masih terlihat asli dan kami sempat bertemu dan berbincang dengan pemilik rumah yang sekarang dari foto-foto yang terpasang di dinding kami mengetahui bahawa banyak wisatawan asing dan domestik yang telah datang kesini

Kami lalu menuju Loksado karena menurut Pak Nasrudin Ansori malam nanti akan ada upacara Aruh Ganau upacara adat dayak meratus untuk memohon kepada Penguasa Alam agar hasil panen padi berhasil upacara ini dilangsungkan 3 kali dalam setahun dan waktunya berubah mengikuti awal penanaman padi.Dayak meratus merupakan penganut ajaran Kaharingan.

Dalam perjalanan kami melewati Kota kecil Kandangan yang terkenal dengan kulinernya bernama ketupat Kandangan bahan baku ketupat kandangan adalah ketupat,ikan haruan( (gabus) disiram kuah santan menghasilkan rasa yang gurih dan lezat.

Menjelang maghrib akhirnya kami tiba di loksado ternyata seluruh kamar di wisma Loksado dan penginapan lainnya telah terisi sempat bingung juga mau tidur dimana malam ini untungnya disaat itu Pak Nasrudin ansori berbicara dengan Pimpinan hasser Indonesia Bapak Eddy Tramanto apakah kami dapat bergabung dengan rekan Hasser yang lain malam ini Beliau mempersilahkan dan jadilah kami bergabung dengan Pak Nasrudin Ansori dan 2 rekan dari Hasser Indonesia

Setelah makan malam kami bersiap melihat upacara adat Aruh Ganau yang diadakan di rumah adat Manutoi dari Dayak Meratus dengan menggunakan 4 motor dan 4 driver kami berlima berangkat.jalan menuju ke tempat acara menanjak,bergelombang,berbatu dan aspal mengelupas dan melewati jembatan kayu sehingga beberapa kali kami harus turun dulu dari motor saat mendaki dan menurun baru naik lagi bahkan beberapa kali nyaris slip.akhirnya kami tiba di Rumah Adat Manutoi tempat berlangsungnya upacara.

Rumah Adat manutoi berbentuk panggung dan panjang dan luas sehingga bisa ditempati beberapa keluarga ketika kami tiba seluruh persiapan telah selesai dilakukan dimana di tengah-tengah ruangan dibangun balai dan sesaji diletakkan disana tapi upacara belum dimulai Warga Dayak Meratus segala usia berkumpul disana.Sambil menunggu acara dimulai kami berbicara dengan warga Dayak Meratus.perbincangan kami meliputi adat,budaya,kepercayaan,pendidikan dan hubungan mereka dengan alam kami mendapat kesan positif dimana Masyarakat dayak Meratus adalah masyarakat yang terbuka,menghormati tamu dan pendatang dan selaras dengan alam.Inilah saat yang ditunggu mulainya upacara para pemuka adat dan orang yang dituakan dimana seluruhnya laki-laki mengucapkan mantera dan mengelilingi balai diiringi tabuhan musik.upacara aruh Ganau berlangsung pagi hari karena paginya kami hendak bamboo rafting dan trekking jam 24.00 WITA kami mohon diri dan kembali ke penginapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s